Advertisemen
oleh Zon Jonggol
Seorang kawan kami sepulang mengikuti sebuah pelatihan di Jepang mengabarka n bahwa dia menemukan kehidupan yang Islami di sana. Hal yang dimaksud oleh kawan kami sebagai kehidupan Islami adalah sebatas kebiasaan atau budaya menjaga kebersihan seperti toilet yang selalu bersih.
Kebiasaan atau budaya bekerja secara tekun, profesiona l. Bahkan orang Jepang terkenal sebagai pekerja setia pada satu perusahaan .
Kebiasaan atau budaya menghargai waktu dalam menepati janji, contohnya ketika seorang pembicara asal Jepang hadir tepat pada waktu presentasi nya sudah memohon maaf kepada hadirin karena kebiasaan atau budaya di sana seorang pembicara biasanya hadir sebelum waktu presentasi agar hadirin tidak bertanya-t anya atau dalam ketidak pastian.
Orang Jepang kehidupan yang Islami tersebut timbul karena ketaatan mereka pada peraturan yang mereka sepakati bersama sehingga menjadi sebuah kebiasaan atau budaya.
Contoh lainnya kawan kami menceritak an ketika ke supermarke t melihat kebiasaan orang Jepang di sana kalau melihat potongan struk belanja atau sampah kecil lainnya pada sebuah troley belanja maka mereka dengan suka hati memasukkan nya ke tempat sampah.
Pertanyaan nya adalah kenapa kehidupan yang Islami seperti itu justru kurang terlihat pada umat Islam, khususnya di negara kita ?
Bahkan hadits "kebersihan adalah sebagian dari Iman" dianggap sebagai hadits dhoif bahkan hadits palsu
Mereka yang menganggap nya sebagai hadits palsu adalah mereka yang hanya berpegang pada hadits-had its yang telah dibukukan saja. Padahal sebagian hadits tidak terbukukan dan hanya dalam bentuk hafalan yang disampaika n secara estafet dari lisan ke lisan secara terun temurun dalam bentuk nasehat dimana sanad hadits tidak terlalu diperhatik an lagi.
Sedangkan hadits-had its untuk perkara hukum dalam Islam atau perkara syariat atau fiqih memang sanad hadits harus diperhatik an. Namun untuk perkara syariat atau fiqih buat apa lagi kita menyibukka n diri atau membuang waktu mengulang kembali apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh Imam Mazhab yang empat. Terlebih lagi jumlah hadits yang telah dibukukan hanya sebagian kecil dari jumlah hadits yang diterima dan dihafal oleh Imam Mazhab yang empat sehingga tidak cukup sebagai sumber untuk melakukan ijtihad dan istinbat. Oleh karenanya untuk perkara syariat atau fiqih cukupkanla h pada Imam Mazhab yang empat sebagaiman a yang telah disampaika n dalam tulisan pada http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/10/22/ mazhab-yang -empat/
Mengapakah tidak terimpleme ntasikan "kebersiha n adalah sebagian dari iman" ?
Ada yang hilang atau terlupakan oleh umat Islam yakni tentang Ihsan yang merupakan bagian dari tiga pokok dalam agama Islam yakni Iman, Islam dan Ihsan
Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah , apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutuk an Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah , apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-N ya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya , beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkita n serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah , apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-aka n kamu melihat-Ny a (bermakrif at), maka jika kamu tidak melihat-Ny a (bermakrif at) maka sesungguhn ya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)
Tentang Islam diuraikan dalam ilmu fiqih
Tentang Iman diuraikan dalam akidah atau i’tiqod atau ushuluddin
Tentang Ihsan diuraikan dalam tasawuf
Ada yang bertanya apakah Rasulullah dan para Sahabat mengamalka n tasawuf ?
Tasawuf hanyalah sebuah istilah untuk perkara yang berkaitan dengan ihsan atau akhlak
Silahkan periksa kurikulum atau silabus pada perguruan tinggi Islam maka tasawuf adalah ihsan atau akhlak
Jadi pertanyaan tersebut sebenarnya adalah “Apakah Rasulullah dan para Sahabat mengamalka n ihsan?
Tentu jawabannya adalah, "Benar, Rasulullah maupun Salafush Sholeh mengamalka n ihsan atau tasawuf"
Dari hadits di atas yang dimaksud ihsan adalah seakan-aka n kamu melihat-Ny a (bermakrif at) yakni menyaksika n Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh)
Muslim yang bermakrifa t atau muslim yang menyaksika n Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranN ya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukka n sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-aka n pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksika n-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallah u alaihi wasallam berkata: “Seutama-ut ama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksik an) bahwa Allah selalu bersamanya , di mana pun ia berada“
Rasulullah shallallah u alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaim u dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَآهُ بِقَلْبِ
Telah menceritak an kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritak an kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Ny a?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah- Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Ny a?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanN ya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurna an, keindahan dan keagunganN ya, sehingga nyatalah bukti kebesaranN ya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembuny i padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolonga n“
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaik an, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurka n hijab-hija b antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-send i putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnala h semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.
Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifa t maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah , apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-aka n kamu melihat-Ny a (bermakrif at), maka jika kamu tidak melihat-Ny a (bermakrif at) maka sesungguhn ya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhn ya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamb a-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindar i perbuatan maksiat, menghindar i perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentukl ah muslim yang berakhlaku l karimah atau muslim yang sholeh
Jadi jika seorang muslim mengamalka n ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan -kan dirinya maka dia tidak akan membiarkan sampah bukan pada tempatnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalka n ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan -kan dirinya maka dia bekerja dengan tekun, profesiona l, menghargai waktu dalam menepati janji, tidak bermalas-m alasan, tidak bermewah-m ewahan atau tidak boros dan tidak melakukan hal buruk lainnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalka n ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan -kan dirinya maka jika dia seorang pelajar atau mahasiswa maka dia tidak akan melakukan perkelahia n atau tawuran antar siswa atau antar mahasiswa karena mereka memandang Allah dengan hatinya atau karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Jika seorang muslim mengamalka n ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan -kan dirinya maka jika dia seorang pejabat maka dia akan melaksanak an jabatannya dengan amanah, jujur, adil, profesiona l dan tidak akan melakukan korupsi karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kesimpulan nya adalah bahwa kehidupan Islami terbentuk karena kaum muslim mengamalka n ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan -kan dirinya sehingga jika bersikap dan melakukan perbuatan maka akan bersikap dan melakukan perbuatan yang dicintaiNy a karena kaum muslim memandang Allah dengan hatinya atau karena kaum muslim selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Permasalah annya pada masa sekarang kaum muslim dijauhkan dari tasawuf (akhlak / ihsan) karena termakan hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarka n oleh kaum Zionis Yahudi.
Salah satu contoh penghasutn ya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidik i dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpu lan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab ) dan istiqomah mengikuti tharikat-t harikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulam a yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemah kan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis .
Contoh yang terkenal adalah penyalahgu naan perkataan Imam Syafi’i ra yang dikutip dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi yakni ungkapan “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.” Penjelasan perkataan Imam Syafi’i ra tersebut telah disampaika n dalam tulisan pada http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/05/06/ apakah-tasa wuf/
Pada hakikatnya upaya kaum Zionis Yahudi menjauhkan kaum muslim dari tasawuf adalah dalam rangka merusak akhlak kaum muslim sebagaiman a mereka menyebarlu askan pornografi , gaya hidup bebas, liberalism e, sekulerism e, pluralisme , hedonisme dan lain lain.
Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatull ah Jakarta sangat menyayangk an sirnanya pendidikan tasawuf (pendidika n akhlak) dalam kurikulum pendidikan di negeri kita sebagaiman a kutipan tulisan beliau yang dimuat pada http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2010/06/07/ pendidikan- akhlak/
Imam Sayyidina Ali ra menasehatk an puteranya “Sejak awal aku bermaksud menolong mengembang kan akhlak yang mulia dan mempersiap kanmu menjalani kehidupan ini. Aku ingin mendidikmu menjadi seorang pemuda dengan akhlak karimah, berjiwa terbuka dan jujur serta memiliki pengetahua n yang jernih dan tepat tentang segala sesuatu di sekeliling mu”. Nasehat selengkapn ya dalam tulisan pada http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/06/26/ 2010/11/04/ nasehat-say yidina-ali -ra/
Imam Sayyidina Ali ra dalam nasehatnya telah menegaskan bahwa pengembang an akhlak yang mulia adalah hal yang utama dalam menjalanka n kehidupan ini.
Imam Syafi’i ~rahimahul lah menasehatk an kita agar mencapai ke-sholeh- an sebagaiman a salaf yang sholeh adalah dengan menjalanka n perkara syariat sebagaiman a yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalanka n tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlaku l karimah atau muslim yang Ihsan
Imam Syafi’i ~rahimahul lah menyampaik an nasehat (yang artinya) ,”Berusahala h engkau menjadi seorang yang mempelajar i ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhn ya demi Allah saya benar-bena r ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajar i ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajar i ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi' i, hal. 47]
Imam Malik ~rahimahul lah menasehatk an agar kita menjalanka n perkara syariat sekaligus menjalanka n tasawuf agar tidak menjadi manusia yang rusak (berakhlak tidak baik).
Imam Malik ~rahimahul lah menyampaik an nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajar i fiqih (menjalank an syariat) rusak keimananny a , sementara dia yang belajar fiqih (menjalank an syariat) tanpa mengamalka n Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-oran g yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdad y as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan , “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”
Imam Nawawi ~rahimahul lah berkata : “Pokok-pok ok metode ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapa n maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian- Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshi d fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)
Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in , Al Hasan al-Basri ra (Madinah,2 1H/ 642M – Basrah,110 H/ 728M) , berkata: ”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan ) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombonga n kepadanya akan dicampakka n kedalam neraka”.
Buya Hamka penulis buku “Tasawuf Modern” setelah mengikuti Tarekat Qodiriyah Naqsabandi yah pernah berujar di Pesantren Suryalaya Tasikmalay a bahwa dirinya bukanlah Hamka, tetapi “Hampa” sebagaiman a yang dituturkan oleh Dr Sri Mulyati, pengajar tasawwuf UIN Syarif Hidayatull ah
“Dirinya bukanlah Hamka tetapi “hampa” adalah ungkapan penyaksian Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifa t. Mereka yang menjadi shiddiqin yakni membenarka n dan menyaksika n bahwa selain Allah ta’ala adalah tiada. Selain Allah ta’ala adalah tiada apa apanya. Selain Allah ta’ala adalah bergantung padaNya.
Begitupula Bung Karno dalam pencarian dan menyampaik an keingginan nya agar dapat meninggal dunia dalam keadaan tersenyum sebagaiman a yang beliau ungkapkan kepada Prof. Dr.H.SS. Kadirun Yahya MA, Msc, Rektor Universita s Pembanguna n Panca Budi Medan, Thariqat Naqsyaband iyah Khalidiyah sebagaiman a yang terurai dalam tulisan pada https:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2011/10/09/ sukarno-dan -mati-seny um/
Sekali lagi kami mengingatk an bahwa tasawuf adalah jalan untuk mencapai muslim yang ihsan yakni muslim yang bermakrifa t. Lebih lanjut tentang tasawuf atau tentang ihsan silahkan baca tulisan pada
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/06/13/ tasawuf/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2010/05/25/ istilah-tas awuf/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2011/02/21/ tips-bertas awuf/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/01/23/ jalan-berma krifat/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/06/13/ kegunaan-ta sawuf/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/05/17/ habib-dan-t arekat/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/05/23/ cinta-yang- ihsan/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2012/08/16/ pada-diri-k ita/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2011/03/05/ hakikat-man usia/
http:// mutiarazuhu d.wordpres s.com/ 2011/10/10/ hakikat-dan -marifat/
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830
Kebiasaan atau budaya bekerja secara tekun, profesiona
Kebiasaan atau budaya menghargai
Orang Jepang kehidupan yang Islami tersebut timbul karena ketaatan mereka pada peraturan yang mereka sepakati bersama sehingga menjadi sebuah kebiasaan atau budaya.
Contoh lainnya kawan kami menceritak
Pertanyaan
Bahkan hadits "kebersihan
Mereka yang menganggap
Sedangkan hadits-had
Mengapakah
Ada yang hilang atau terlupakan
Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah
Tentang Islam diuraikan dalam ilmu fiqih
Tentang Iman diuraikan dalam akidah atau i’tiqod atau ushuluddin
Tentang Ihsan diuraikan dalam tasawuf
Ada yang bertanya apakah Rasulullah
Tasawuf hanyalah sebuah istilah untuk perkara yang berkaitan dengan ihsan atau akhlak
Silahkan periksa kurikulum atau silabus pada perguruan tinggi Islam maka tasawuf adalah ihsan atau akhlak
Jadi pertanyaan
Tentu jawabannya
Dari hadits di atas yang dimaksud ihsan adalah seakan-aka
Muslim yang bermakrifa
Imam Qusyairi mengatakan
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah
Rasulullah
حَدَّثَنَا
Telah menceritak
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya
Beliau menjawab, “Bagaimana
“Bagaimana
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah,
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaik
Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifa
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhn
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh),
Jadi jika seorang muslim mengamalka
Jika seorang muslim mengamalka
Jika seorang muslim mengamalka
Jika seorang muslim mengamalka
Kesimpulan
Permasalah
Salah satu contoh penghasutn
Contoh yang terkenal adalah penyalahgu
Pada hakikatnya
Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatull
Imam Sayyidina Ali ra menasehatk
Imam Sayyidina Ali ra dalam nasehatnya
Imam Syafi’i ~rahimahul
Imam Syafi’i ~rahimahul
Imam Malik ~rahimahul
Imam Malik ~rahimahul
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan
Imam Nawawi ~rahimahul
Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in , Al Hasan al-Basri ra (Madinah,2
Buya Hamka penulis buku “Tasawuf Modern” setelah mengikuti Tarekat Qodiriyah Naqsabandi
“Dirinya bukanlah Hamka tetapi “hampa” adalah ungkapan penyaksian
Begitupula
Sekali lagi kami mengingatk
http://
http://
http://
http://
http://
http://
http://
http://
http://
http://
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830
Advertisemen